projustitiaunsoed.com

Puji Muda, Pilih Murahan: Ironi Kabinet Gibran

Film Jumbo memecahkan rekor sebagai film animasi Indonesia terlaris setelah sukses meraih jutaan penonton dalam hitungan minggu. Kesuksesan ini menjadi bukti nyata bahwa karya anak bangsa mampu menyaingi film animasi luar negeri. Ryan Adriandhy, sang sutradara, pun dipuji sebagai simbol generasi muda produktif. Pencapaian yang membanggakan ini bisa dirasakan oleh banyak orang. Salah satunya dirasakan oleh Wakil Presiden Gibran di kanal youtube miliknya dalam video yang berjudul Generasi Muda, Bonus Demografi dan Masa Depan Indonesia. Gibran mengatakan bahwa sekarang banyak anak muda yang sedang tampil di garis depan, contohnya adalah penayangan film Jumbo yang dipuji-puji olehnya sebagai “era baru industri animasi Indonesia”. Akan tetapi, dibalik ucapan manis tentang film Jumbo yang dikaitkan dengan “bonus demografi” dan “kesempatan emas”, kabinet Prabowo-Gibran justru memperlihatkan ironi yang memalukan sekaligus memilukan.

Kabinet Prabowo-Gibran terkesan hanya mau memetik buah tanpa mau menanam pohon. Gemar memamerkan prestasi orang lain, tapi ogah mengulurkan tangan saat proses. Seperti halnya yang dilakukan oleh Kemenparekraf yang sempat membantu dalam pemasangan balon raksasa karakter Jumbo di Candi Prambanan dan di Pantai Indah Kapuk, bahkan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, karakter film Jumbo dipajang sebagai bentuk dukungan promosi. Namun, dukungan tersebut baru datang setelah film tersebut sukses ibarat memberi payung saat hujan sudah reda. Di sisi lain, untuk proyek resmi seperti animasi makan bergizi gratis yang dibuat oleh Kemkomdigi, mereka lebih memilih menggunakan AI generatif ketimbang memberi pekerjaan ke animator dalam negeri. Hasilnya? Video kampanye mereka lebih mirip badut digital dengan karakter tanpa hidung, tangan berjari tujuh, atau latar belakang yang tiba-tiba menghilang. Tidak hanya itu, pejabat yang lain justru memajang karya asal-asalan AI lainnya di media sosial. Alih- alih malu, sebaliknya mereka malah menaruh caption seperti “Inovasi teknologi untuk Indonesia maju!”. Bahkan Gibran pun sering asyik bermain-main dengan AI generatif yang kemudian ia tampilkan di akun Instagram miliknya. Padahal disaat yang sama, ribuan animator lokal yang sudah menghabiskan waktu tahunan untuk belajar justru gigit jari karena tidak diberdayakan.

Alasan kabinet menggunakan AI generatif pun menggelikan, “manusia yang enggak pakai AI itu nanti akan dikalahkan oleh manusia yang pakai AI” atau “Lebih efisien dan modern!”, Padahal, efisien yang mereka maksud itu sekedar akal-akalan pejabat malas yang hanya bermodalkan prompt sederhana, lalu kemudian mengklaimnya sebagai inovasi. Jika animasi resmi negara saja dibuat menggunakan AI generatif dan tidak memanfaatkan SDM yang ada, bagaimana kita bisa memanfaatkan bonus demografi? Ini bukan sekadar persoalan teknis, tapi bukti kegagalan visi. Gibran boleh menjadikan Jumbo karya animator muda sebagai kebanggaan, tetapi kabinetnya justru membunuh masa depan generasi muda dengan menggunakan mesin instan. AI generatif memang murah dan mudah digunakan, tetapi ia hanya menghasilkan karya tanpa jiwa, kreativitas, apalagi kebanggaan nasional.

Jika kabinet memang serius ingin memanfaatkan bonus demografi seperti yang Gibran katakan, berhentilah menjadikan karya anak muda seperti film Jumbo sebagai pemanis pidato saja. Berikut adalah tiga langkah nyata yang harus diambil:

 

1. Hapus Semua Proyek AI Generatif yang Memalukan.

Berhenti menggunakan AI untuk konten resmi seperti video kampanye, animasi sosialisasi atau sekadar ucapan peringatan di hari besar. Alih-alih memakai mesin instan, pemerintah bisa menggelar sayembara desain karya yang melibatkan studio lokal.

 

2. Gunakan Anggaran untuk Pemberdayaan Animator Lokal.

Anggaran negara harus menjadi alat untuk memberdayakan, bukan menghancurkan. Pemerintah seharusnya mengalirkan dana ke hal-hal mendasar seperti pelatihan skill animator muda, penyediaan software profesional dan infrastruktur studio yang memadai sebagai investasi yang menjamin bahwa Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada mesin instan dan lebih melihat animator lokal sebagai aset negara yang patut dihargai dengan diberi ruang dan sumber daya.

 

3. Perbanyak Program Pendanaan Khusus untuk Karya Kreatif.

Karya kreatif tidak bisa hidup hanya dari promosi. Tetapi juga membutuhkan dukungan nyata sejak dari tahap produksi hingga distribusi. Pemerintah perlu membangun sistem pendanaan yang tidak hanya memberi ikan, tapi juga mengajarkan cara memancing. Ini berarti membantu dari proses pendanaan produksi, menjamin distribusi karya lewat platform nasional dan internasional, serta melindungi hak cipta dari pembajakan. Tanpa sistem ini, Indonesia hanya akan jadi penonton di rumah sendiri, sementara karya-karya brilian terbuang karena tidak ada yang mendorongnya ke panggung global.

 

Pilihan berada di tangan pemerintah, ingin terus jadi tukang puji yang hipokrit dan menyia- nyiakan generasi muda yang berbakat, atau menjadi arsitek yang membangun sistem yang baik agar karya sukses seperti Jumbo terus tercipta dan terjaga.

 

Referensi:

https://www.youtube.com/watch?v=unZFwK2dWjY

https://www.tempo.co/teroka/jumbo-dan-harapan-baru-kebangkitan-animasi-indonesia-1237339

https://www.youtube.com/watch?v=ldxzVrtqXFg

https://www.pojoksatu.id/entertainment/1085929011/mengupas-kesuksesan-film-jumbo-daftar- 10-film-terlaris-indonesia-hingga-kalahkan-pengabdi-setan 

 

Penulis: Qorry Mubarokia Iskandar

Editor: Muh. Syawallu Zaqi Ihsan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *