Judul: The Verdict (Keadilan)
Sutradara: Yusron Fuadi & Lee Chang-hee
Penulis naskah: Lee Chang-hee, Yoon Hyeon-Ho, Oh Ji-Young
Tahun rilis: 2025
Pemeran utama: Rio Dewanto, Reza Rahadian
Durasi: ± 100 menit
Platform: Netflix
Genre: Drama, Thriller, Hukum
Film Keadilan (The Verdict) merupakan film yang mengangkat tema hukum, keadilan, dan moralitas dalam proses peradilan. Film ini menceritakan tentang Raka yang diperankan oleh Rio Dewanto, seorang satpam di pengadilan negeri, yang hidupnya berubah drastis setelah istrinya menjadi korban pembunuhan di sebuah restoran. Tersangka dalam kasus tersebut adalah Dika, yang kemudian menyewa seorang pengacara bernama Timo, diperankan oleh Reza Rahadian.
Timo dikenal sebagai pengacara yang ambisius dan tidak segan menggunakan berbagai cara demi memenangkan perkara kliennya. Dalam kasus-kasus sebelumnya, Timo bahkan memanipulasi bukti, seperti menghadirkan alasan pemaaf berupa gangguan mental yang sebenarnya direkayasa, demi membebaskan pelaku dari hukuman. Dalam menangani kasus istri Raka, Timo kembali menggunakan cara-cara licik, termasuk memengaruhi saksi untuk memberikan kesaksian palsu di persidangan. Ketika putusan hakim hampir membebaskan Dika, Raka yang diliputi kemarahan menyerang ruang sidang pada saat persidangan terakhir, lalu menyandera orang-orang yang berada di dalamnya. Tindakan tersebut dilakukan Raka dengan tujuan memaksa diadakannya persidangan ulang demi mengungkap kebenaran atas kematian istrinya.
Film ini menggambarkan kondisi ketika hukum tidak lagi berfungsi sebagai instrumen untuk melindungi hak korban, melainkan justru dimanfaatkan untuk membebaskan pelaku dari pertanggungjawaban atas perbuatannya. Berbagai bukti yang seharusnya mengarah pada Dika sebagai pelaku pembunuhan justru dapat diputarbalikkan sedemikian rupa sehingga ia terbebas dari tuduhan. Dalam hal ini, hukum ditampilkan sebagai alat yang dapat dimanipulasi melalui kepiawaian dalam berargumentasi.
Pengacara Timo, yang digambarkan sebagai sosok yang kompeten, mampu menggunakan celah-celah dalam hukum untuk membebaskan kliennya dari jerat pidana. Timo mengonstruksi pembelaan dengan memanfaatkan alasan pemaaf, seperti kondisi tidak sadar akibat mabuk dan memanipulasi kesehatan jiwa pelaku, yang secara hukum dapat meringankan bahkan menghapus pertanggungjawaban pidana. Kemampuan Timo dalam mengolah teori hukum menunjukkan bagaimana hukum dapat diarahkan tidak untuk menegakkan keadilan, melainkan untuk memenangkan perkara semata.
Di sisi lain, film ini juga memberikan refleksi kritis mengenai pentingnya integritas seorang pengacara dalam menjalankan profesinya. Kejujuran dan tanggung jawab moral menjadi aspek krusial agar hukum tetap berfungsi sebagai pelindung hak korban. Karakter Timo merepresentasikan sosok pengacara yang menyalahgunakan kompetensinya demi kepentingan material sehingga mengaburkan tujuan utama penegakan hukum. Selain itu, film ini turut menyoroti lemahnya integritas aparat penegak hukum lainnya, seperti jaksa, yang digambarkan dapat dipengaruhi oleh kepentingan tertentu. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sistem peradilan tidak hanya bergantung pada aturan hukum, tetapi juga pada moralitas para penegaknya.
Secara keseluruhan, film ini layak ditonton oleh berbagai kalangan, karena dikemas dengan plot yang tidak membosankan dan alur yang menarik bahkan bisa dikatakan sangat fresh untuk dunia perfilman Indonesia. Film ini juga didukung para pemain utama yang tidak diragukan lagi kemampuan penjiwaan dalam berakting. Secara khusus, film ini sangat relevan bagi mahasiswa Fakultas Hukum, karena mampu menjadi media refleksi dalam memahami penerapan teori hukum di lapangan, sekaligus menguji kesesuaiannya dengan praktik yang digambarkan dalam dialog dan alur cerita.
Law student must watch⚖️/10
Sumber foto: netflix
Penulis: Alya Septiyana
Penyunting: Reka Syawal Purnama
Editor desain: Alexandra Prameswari


