projustitiaunsoed.com

Resensi Drama Vincenzo: Menghukum Kejahatan Dengan Kejahatan

Cerita berpusat pada Vincenzo Cassano (diperankan oleh Song Joong-ki), seorang pengacara keturunan Korea yang diadopsi oleh keluarga mafia Italia dan tumbuh menjadi seorang consigliere (penasihat hukum mafia). Konflik internal pasca kematian bosnya memaksa Vincenzo pulang ke Seoul demi misi pribadi: mengamankan 1,5 ton emas batangan milik seorang taipan Tionghoa yang sudah meninggal. Emas 1,5 ton yang bernilai puluhan triliun itu tersembunyi di dalam ruang bawah tanah Plaza Geumga yang mustahil untuk ditembus dan hanya Vincenzo yang mengetahui caranya. 

Namun, kepulangannya justru menyeret Vincenzo ke dalam perang terbuka melawan Babel Group sebuah konglomerat (chaebol) korup yang tak segan menghalalkan segala cara untuk mengeruk keuntungan. Bersama Hong Cha-young (Jeon Yeo-bin), seorang pengacara eksentrik yang didorong oleh dendam pribadi,karena ayahnya dibunuh oleh Babel Group. Vincenzo memutuskan untuk melawan kejahatan terorganisir tersebut. Menggunakan prinsip mafia lamanya: “Un diavolo scaccia l’altro” dalam bahasa Italia yang artinya “Hanya kejahatan yang bisa menghukum kejahatan.”

Di sinilah serunya. Vincenzo  bukan tipe pahlawan yang bakal ceramahin musuhnya pakai ayat-ayat konstitusi. He is a villain. Dia membakar pabrik obat, main ancam, dan memanipulasi orang. Tapi anehnya, kita sebagai penonton malah turut terbawa suasana mendukung aksi kriminal dia, kenapa? Karena musuh yang dihadapi adalah aliansi korporasi jahat, jaksa korup, dan media bayaran itu jauh lebih monster.

Prinsip hidup Vincenzo simple, tetapi sangat mengena di hati Gen Z yang sudah lelah dengan realitas: “Hanya kejahatan yang bisa menghukum kejahatan”. Sebuah tamparan keras bagi sistem hukum dunia nyata yang sering kali tumpul ke atas, tetapi tajam ke bawah. 

Vincenzo hadir sebagai bentuk escapism atau pelarian yang memuaskan ego kita. Ketika hukum negara gagal total, karena disuap, kita semua mendambakan sosok vigilante (orang yang main hakim sendiri demi keadilan) yang bersedia mengotori tangannya. Dialog Vincenzo yang bilang, “Keadilan itu lemah dan kosong” itu rasanya seperti divalidasi langsung oleh realitas yang kita lihat di media sosial tiap hari.

Gen Z itu tumbuh di era di mana informasi terbuka lebar dan kita sering banget melihat berita tentang koruptor yang dihukum ringan atau orang kaya yang bisa lolos dari hukum cuma pakai uang. Ada rasa frustrasi kolektif yang kita rasakan terhadap dunia nyata.

Vincenzo itu seperti segelas iced americano di siang bolong: pahit, dingin, tetapi membuat sadar dan nagih. Walaupun pada beberapa episode terakhir adegan kekerasannya terasa cukup mengganggu dan durasinya sedikit terlalu panjang, drama ini tetap menjadi salah satu karya satir sosial terbaik yang dikemas dengan visual estetis bergaya high fashion.

 

Penulis: Linda Sefiatin
Penyunting: Reka Syawal Purnama
Editor desain: Citra Allaeida Zahira

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *