projustitiaunsoed.com

Pertiwi

Dahulu
Berdiri insan dibawah bagasaara, diterpa serayu ambu bahagia.

Terdiam netra memandang elokonya pertiwi yang tak bisa dipungkiri.

Nastabala dan Bumantara pun rasanya tak lara melihat pertiwi yang mulia.

Diri ini pun alih-alih tak dapat membanangi indah nan asri.

Namun kini, pertiwi tak lagi sama.
Rusak, risak dimana-mana.

Akibat insan bodoh tak tahu apa-apa, yang hanya melikut dibawah adikara.
Hasil insan gila, yang sibuk berpura-pura.

Pertiwi suram akibat kebijakan buram.
Tak lupa jua para penguasa yang mencengkeram.

Bila pertiwi bersabda rasanya sudah geram. Melihat manusia-manusia yang begitu haram.

Lalu bagaimana?
Orasi sana-sini telah dipenuhi, dengan tujuan membangun pertiwi kembali.

Begitu Nihil. Memang dasarnya manusia dungu, hilang rasa peduli.
Masuk kanan keluar kiri.

Geram daksa ini, rasanya butuh adorasi besar tuk membangun pertiwi.

Sarira ini tak kenal lara, demi Rahayu Baswara sang Pertiwi.

Gunung tinggi, hijau hutan, luas laut, ragam budaya, layak dijaga tuk identitas pertiwi.

Wujud cinta pada sang pertiwi.

Penulis: Muh. Syawallu Zaqi Ihsan
Penyunting: Reka Syawal Purnama
Editor Desain; Alexandra Prameswari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *