projustitiaunsoed.com

Catcalling Jadi Bahasan Utama Di Diskusi Aman Pertama Tahun 2026

Diskusi Aman pertama di tahun 2026 digelar dengan tema “Catcalling: Apresiasi atau Pelecehan, Siapa Yang Menentukan?” oleh Kementerian Anti Kekerasan (Antika) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di lapangan Justitia 1 FH pada Senin (12/5/26).

Adapun moderator dalam forum ini ialah Rafael Ananditya Triandanu dan Jason Aletheia Gressando Nainggolan. 

 

Batasan Catcalling

Moderator memberikan pertanyaan kepada peserta diskusi, “Apa batasan perbedaan antara catcalling dan memuji?”

Menteri Antika, Gieska Puteri, berpendapat bahwa catcalling bertujuan untuk mengobjektifikasi seseorang. Umumnya, catcalling ditujukan pada tubuh seseorang dengan penyampaian yang tidak sopan. Secara singkat, menurutnya catcalling dibatasi oleh sopan santun.

Namun, moderator kemudian menimpali bahwa jika batasannya adalah sopan santun, setiap orang tentu memiliki batas yang berbeda-beda. Salah satu peserta, Aldo, menanggapi bahwa pujian juga bisa berupa sarkasme sehingga seseorang tidak seharusnya asal memuji orang lain.

Tanggapan kontra datang dari Reva. Ia menyatakan tidak setuju bila batasannya hanya sopan santun. Menurutnya, batasan yang lebih jelas adalah empati, yakni apakah seseorang memikirkan dan mempertimbangkan terlebih dahulu apakah orang lain akan merasa nyaman atau tidak jika berada dalam posisi tersebut.

 

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terkena Catcalling 

Anne bertanya mengenai tindakan yang sebaiknya dilakukan ketika mengalami catcalling. Peserta di sampingnya kemudian nyeletuk agar pelaku dipukul saja.

Ada pula peserta lain yang secara tidak langsung menyatakan ketidaksetujuannya terhadap tindakan tersebut.

“Kekerasan lawan kekerasan dong,” ucapnya.

Peserta lain bernama Dewandaru Setyawan menjawab dengan menceritakan pengalamannya pernah mengalami catcalling yang dilakukan oleh seorang waria.

“Agak lama kita di satu lift yang sama, tiba-tiba dia bilang, ‘Ih kamu ganteng banget.’ Aku sendiri bingung ngapain pada waktu itu,” katanya. Namun, pada akhirnya ia mengaku menampar orang tersebut.

Brenda Arlenda Simanjuntak dan Jizdan Salim, Wakil Presiden dan Presiden BEM FH Unsoed, mengatakan tidak setuju apabila kekerasan dibalas dengan kekerasan karena hal tersebut hanya akan membentuk lingkaran yang tidak akan ada akhirnya. 

Adapun Ardhito Hanggoro menceritakan kemungkinan kebingungan yang dialami seseorang dengan gender selain perempuan dan laki-laki ketika mengalami catcalling. Ia mencontohkan bagaimana seseorang bisa merasa bingung apakah harus senang karena merasa keberadaannya diakui atau justru marah karena mengalami pelecehan. 

 

Mengapa Catcalling Bisa Terjadi

Salah satu peserta menyinggung alasan catcalling bisa terjadi. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut dipengaruhi faktor kemiskinan. Namun, Brenda menanggapi bahwa catcalling terjadi karena adanya ketimpangan gender di masyarakat. Persepsi tersebut, menurutnya, banyak dipengaruhi oleh pendidikan seseorang di rumah, terlepas dari miskin, kaya, bodoh, ataupun pintarnya seseorang.

 

Dulu & Kini 

Brenda menceritakan bahwa ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), ia pernah mengalami kekerasan seksual berupa catcalling dari seorang guru laki-laki. Teman-temannya pun kemudian ikut melakukan catcalling terhadap dirinya.  Bahkan guru tersebut sering grepe-grepe-in (pelecehan fisik) murid-muridnya. 

Jizdan mengatakan bahwa kesadaran mengenai catcalling saat ini sudah cukup tinggi dibandingkan dulu, terutama pada generasi boomer ketika catcalling dinormalisasi dalam serial televisi. Menurutnya, masih banyak generasi boomer atau orang tua yang menganggap catcalling sebagai sesuatu yang normal karena hal tersebut memang dinormalisasi pada zamannya. 

Di akhir Brenda mengungkap alasan Antika mengangkat persoalan catcaling Diskusi Aman ini adalah karena menurut survei yang telah dilakukan Antika banyak yang melaporkan keresahannya, karena mengalami catcalling di lingkungan fakultas hukum sendiri. 

Diskusi ditutup sekitar pukul 18.00 WIB

 

Reporter: Ahmad Nur Rohman, Reka Syawal Purnama 

Penyunting: Reka Syawal Purnama

Editor Desain: Alexandra Prameswari 

 

Sumber foto: BEM FH Unsoed

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *