Aliansi elemen mahasiswa, lembaga, komunitas seni, hingga masyarakat sipil di Banyumas Raya menggelar aksi mimbar bebas yang bertajuk “Lawan Dengan Mimbar Bebas: Desak Mundur Prabowo Gibran” pada Jumat (26/6/2026) sore. Massa aksi memusatkan kegiatan aksi mimbar bebas dengan panggung jalanan tepat di depan Rita Super Mall.
Aksi mimbar bebas ini dimulai sekitar pukul 15.30 WIB.
Berbeda daripada aksi-aksi sebelumnya yang biasanya hanya berisi orasi-orasi saja, kali ini aksi mimbar bebas menggunakan metode panggung jalanan sebagai wadah agar orang-orang yang hadir bisa bebas mengekspresikan keresahan mereka terhadap rezim saat ini. Pada aksi ini menyajikan berbagai bentuk ekspresi seni budaya, mulai dari lapak buku, pasar gratis, pertunjukan teater, orasi, hingga pembacaan puisi dari berbagai elemen kampus dan masyarakat sekitar. Strategi ini ditujukan untuk merangkul simpati publik luas dan membangun gerakan mayoritas sipil di kawasan Banyumas.
Aksi dibuka oleh penampilan musik gitar dan pembacaan puisi sebagai alat pemantik untuk mengajak massa menyuarakan keresahan mereka terhadap rezim saat ini. Kemudian diikuti oleh masyarakat yang menyanyikan lagu “take me home” sebagai simbol pesan perasaan lelah, tersesat, dan ingin kembali atas keseimbangan alam yang mulai terganggu.
Dari berbagai individu yang mengkritik Makan Bergizi Gratis (MBG), salah seorang menyampaikan kritik tajam terhadap alokasi program tersebut. Ia menilai program tersebut menghabiskan anggaran terlalu banyak hingga melampaui persediaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga hal tersebut berdampak terhadap pemotongan anggaran pada sektor yang krusial seperti anggaran pendidikan. Ia juga menyoroti eksploitasi sumber daya alam oleh oligarki-oligarki yang berkuasa, serta terhambatnya pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat. Dan juga kekhawatiran akan disahkannya RUU Polri yang dapat mengakibatkan meluasnya peran militer di ruang gerak masyarakat sipil.
Kemudian dilanjutkan dengan beberapa perwakilan mahasiswa maupun masyarakat yang menyampaikan keresahan mereka melalui karya berbentuk puisi. Selanjutnya, ada perwakilan mahasiswa yang membacakan Sumpah Mahasiswa Indonesia di tengah situasi negara yang dinilai kacau balau karena banyak lapangan pekerjaan diperuntukan kepada aparatur-aparatur negara, daripada untuk masyarakat sipil.
Mimbar bebas ini juga menjadi ruang bagi seorang mahasiswa yang menceritakan ibunya yang berjualan di kantin yang merasa usahanya jauh lebih lancar sebelum adanya program MBG. Ia mengungkapkan bahwa sejak adanya program MBG, dagangan miliknya menjadi tidak laku dan bahkan keberadaan warung madura miliknya juga menjadi tergerus oleh adanya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang berdiri di sebelahnya.
Di akhir, massa aksi membacakan pernyataan sikap. Mereka mengkritisi Pemerintah Daerah (Pemda) Banyumas yang ternyata tidak menindaklanjuti hasil kesepakatan lalu. Pemda Banyumas tidak meneruskan aspirasi yang disampaikan oleh Aliansi Banyumas Raya sehingga menurut mereka, ini adalah bentuk menyepelekan suara rakyat. Kemudian tuntutan yang disampaikan ialah:
1. Efisiensi Anggaran Negara dan Stop Pemborosan APBN
2. Stabilkan dan Turunkan Harga Bahan Pokok serta BBM
3. Hentikan Program MBG serta Proyek Koperasi Desa Merah Putih
4. Tolak Militerisme dan Tegakkan Supremasi Sipil
5.Desak Mundur Prabowo Gibran
Selanjutnya aksi ditutup dengan penampilan dari peserta aksi pada pukul 19.22 WIB.
Reporter: Ahmad Nur Rahman, Nur Fadhilah Hanifah Alma, Listya Palupi, Issabella Cantika Putri, Reka Syawal Purnama
Penyunting: Reka Syawal Purnama
Editor Desain: Reka Syawal Purnama


