projustitiaunsoed.com

Perayaan Hari Tari Dunia, Banyumas Hadirkan Pentas Seni 24 Jam Nonstop

Dalam rangka perayaan Hari Tari Dunia, kegiatan Banyumas Ngibing 24 Jam Menari yang berlangsung pada 2–3 Mei 2026 dengan tema “Keberagaman Jiwa-jiwa yang Menyatu dengan Bumi” digelar meriah di kawasan Kota Lama Banyumas. Perayaan ini menampilkan Penari 24 jam, Ebeg, Tarian Tradisional, Fashion Show, Live Mural 24 jam, hingga Musik Tradisional dan Modern. 

Pembukaan acara dilaksanakan sekitar jam 07.00 WIB, 2 Mei 2026, pertunjukan tari digelar di sejumlah titik, seperti Stage Pendopo, Stage Taman Sari, dan Stage Simpang Mruyung, dengan melibatkan penari dari berbagai kalangan usia dan daerah di dalam dan luar Banyumas hingga mancanegara. Kemudian, penutupan acara yang dilaksanakan sekitar jam 07.00 WIB, 3 Mei 2026 yang kemudian dilanjutkan dengan acara Ebeg di alun-alun Banyumas. Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga diramaikan oleh kehadiran pelaku UMKM yang turut memanfaatkan ramainya pengunjung.

Pada stage utama, yaitu di Pendopo, menampilkan berbagai macam penampilan hiburan. Tarian, Musik, dan juga teater ikut meriahkan selama 24 jam secara bergantian. Selain hiburan, diadakan juga talkshow diskusi budaya yang diisi oleh berbagai ahli budaya dengan pembahasan berbagai macam soal kebudayaan, kolaborasi, dan harapan dari diselenggarakannya acara ini. 

Salah satu penari di Stage Pendopo, yaitu Sedjatiningsih yang merupakan penari berusia 84 tahun yang menampilkan tarian Gatotkaca, memiliki ceritanya sendiri dalam melestarikan budaya. Asli asal Kebumen, dengan masa kecilnya yang sudah bergelut di bidang seni hingga usianya sekarang. 

Selama karirnya dalam bidang seni tari, lebih mendominasi peran penari laki-laki ketimbang perempuan. Alasan tersebut karena adanya larangan dari orang tua yang beranggapan bahwa penari perempuan lebih terkesan cantik ketimbang penari laki-laki. 

“Dari kecil ga boleh tari perempuan sama orang tua. Alasannya karena dandanannya cantik” katanya. 

Dalam menjaga kesehatannya untuk menari pada usianya, Sedjatiningsih melakukan berbagai olahraga untuk menjaga sendi-sendi dan juga peredaran darahnya. Selain melakukan kegiatan fisik, Sedjatiningsih memiliki rahasia lainnya yang diterapkan dalam jiwanya, yaitu mensyukuri apa adanya, melakukan kejujuran, hingga saling meminta dan menerima maaf. Hal tersebut dianggapnya bahwa memiliki jiwa yang baik akan membuat bahagia. 

“wajahe ora ayu banget, tapi kalau sejatinya baik iku nyenengke, bawaannya senang” katanya. 

Alasan Sedjatiningsih memilih tarian Gatotkaca itu sendiri, karena cerita yang dialami Gatotkaca dan kesukaannya terhadap cerita-cerita wayang. Sedjatiningsih merasa prihatin terhadap generasi muda sekarang dalam melestarikan budaya terutama di bidang seni tari. Dalam mengatasi kondisi tersebut, Sedjatiningsih meminta untuk generasi muda untuk selalu meneruskan warisan budaya ke generasi di bawahnya. 

Di area Simpang Mruyung, berbagai penampilan tari dari sejumlah sanggar turut memeriahkan acara yang digelar di atas karpet merah yang membentang di sepanjang jalan. Tarian yang ditampilkan di antaranya, yaitu tari kreasi Wening Sukma dari Sanggar Susi, tari Ropyan oleh Sanggar Tari Sekar Melati, serta tari kreasi Topeng Suminten yang dibawakan oleh Sanggar Tari Satyaloka. Penampilan dari Sanggar Ranusentika juga turut meramaikan suasana. Selain itu, masih banyak sanggar lainnya yang turut menampilkan beragam tarian dan semakin memeriahkan suasana acara.

Kemudian, pada Stage Taman sari merupakan tempat teramai yang dikunjungi masyarakat, terutama malam hari. Hal ini karena tempat lebih leluasa dalam menonton hiburan seni dan penampilan lainnya yang tidak kalah menariknya dengan stage lain. Tempat ini juga, Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono hadir untuk memberi sambutan dan melakukan penyerahan sertifikat. 

Selain pertunjukan seni, kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM di sekitar lokasi acara. Salah satu pedagang di kawasan Kota Lama Banyumas mengungkapkan bahwa penjualan meningkat, karena banyak pengunjung datang tidak hanya untuk menonton pertunjukan, tetapi juga menikmati suasana. 

“Penjualan jadi meningkat karena pengunjung tidak hanya menonton, tapi juga jalan-jalan dan menikmati suasana acara.” Katanya

Selain itu, penjualannya meningkat, karena adanya pengunjung yang bukan berasal dari warga lokal, tetapi juga dari luar daerah seperti Purbalingga dan Cilacap. Peningkatan penjualan terlihat signifikan, terutama pada waktu istirahat siang sekitar pukul 11.30 WIB saat pengunjung mencari makanan dan minuman. Pedagang tersebut berjualan secara bergantian dari pukul 09.00 hingga 17.30 WIB dan tidak mengalami kendala berarti selama kegiatan berlangsung. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat lebih sering diadakan, karena dinilai mampu mendukung perkembangan UMKM setempat serta memperkuat daya tarik budaya di Banyumas.

Acara perayaan Banyumas Ngibing 24 jam ini, membawa kesenangan tersendiri bagi masyarakat berbagai daerah untuk menikmati liburan malam minggu bersama. Sejumlah pengunjung mengaku puas dengan pertunjukan yang ditampilkan, terutama penampilan tarian yang menjadi daya tarik utama. Mereka juga berharap kegiatan ini dapat kembali diselenggarakan pada tahun berikutnya agar Banyumas semakin dikenal luas dan mampu menarik lebih banyak pengunjung. Selain itu, pengunjung menyoroti fasilitas parkir yang dinilai perlu diperluas mengingat tingginya jumlah pengunjung, terutama pada malam hari. 

“Paling ini tempat parkirnya diperluas lagi,” ujar salah satu pengunjung.

 

Reporter: Listya Palupi, Issabella Cantika Putri, Alfiyatu Rohmaniyah
Penyunting: Reka Syawal Purnama
Fotografer: Listya Palupi, Issabella Cantika Putri
Editor Desain: Alexandra Prameswari, Listya Palupi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *